New Info

August 31st, 2008 by udyanis

Blog baru tutut yang berisi kumpulan tulisan-tulisan kecil berisi kata-kata yang terangkai dalam satuan karya… Buka saja
Http://negeri-imaji.blogspot.com

my new blog

May 19th, 2008 by udyanis

just click www.udyanis.vox.com

Misteri

April 29th, 2008 by udyanis

Adalah waktu yang disediakan untuk ku lebih mengerti

Bahwa semua masih misteri…

Meski raga masih bersanding,

Dalam sebuah prasasti suci

Mereka biarlah membuta

Asal aku tetap bertatap

Menanti sebuah sinar emas

Kan berhias dalam dunia

jogjaku, 290408.336

bukukeciltentangBK

March 21st, 2008 by udyanis

Kemarin aku baca buku kecil tentang hari2 terakhir Bung Karno. Ada banyak hal yang masih ada di otakku, betapa tidak manusiwinya penguasa kala itu. Seorang Proklamator sehebat dia, yang menyerahkan hidupnya hanya untuk bangsa Indonesia diperlakukan seperti itu. Aku makin muak dengan semua yang telah mereka lakukan. Sebelum baca buku itupun aku sudah tak berespon dengan segala hal mengenai penguasa otoriter yang akhirnya telah meninggal itu.

Terlalu banyak hal yang membuat emosi meningkat. Mungkin juga karena dilatarbelakangi background nasionalis. Namun, sebagai orang Indonesia, menurutku wajar aku bersikap seperti itu. Bahkan sebagai orang yang punya hati nurani, mestinya punya sensivitas itu.

Soekarno tak semestinya mendapat perlakuan sepeti itu. Bahkan itu berdampak kepada keluarganya. Anak2 dan juga istri2nya. Adilkah seorang Founding Father mendapat "hukuman di dunia" hingga akhir hayatnya? Sakit yang dibuat dan diperparah karna over dosis obat tidur yang merengut nyawanya.

Tuhan, peristiwa itu sudah 38 tahun lalu. Penguasa itupun telah tiada 2 bulan lalu. Masih adakah keadilan? Keadilan akhiratmu pasti yang mereka tunggu.

Mailer Daemon

March 21st, 2008 by udyanis

Pyuh… dua kali gagal untuk ajukan lamaran.

Teknologi memang terkadang malah membelenggu. Dengan keterbatasan kapasitas yang diberikan.

Pagiku yang terang..

February 21st, 2008 by udyanis

Pagiku adalah terang…

Semalam, bintangku masih terlihat samar. Kadang aku masih saja melihat keindahan yang kumiliki lalu dan semua orang miliki. Ya, semua orang mempunyai masa lalu yang tak perlu selamanya dilihat. Bukankah itu mengapa Tuhan yang Agung membuat leher kita tidak bisa menoleh 180 derajat?

Kata seorang sahabat, ketika kita melihat bintang, sebenarnya kita sedang melihat masa lalu kita, karena bintang tercipta selama ribuan juta tahun. Dan ternyata itu yang sering kulakukan dulu. Beberapa waktu yang lalu, melihat bintang adalah pekerjaan indah yang aku lakukan kala desiran angin menemani perjalanan. Meski bintang itu kadang membuat silau mata karena cahayanya yang terang menusuk retinaku yang saydu.

Bintang itu kini perlahan mulai meredup, dilawan rintikan air yang menetes perlahan pada malamku kini. Kesejukannya akan mendekapku erat, dalam mimpi-mimpi indahku. Hingga esok, akan kutemui pagi yang cerah akan menyapa dan memeluk diriku dalam kehangatan mentari.

Kan kusambut segala aura hangat pagiku nanti. Menemani langkahku yang semakin mantap ke depan. Bintang, kau tetap ada di langit malamku dan pagi adalah semangat baruku.

20th Feb, 2008

Graduate Syndrom

January 30th, 2008 by udyanis

Kelulusan merupakan suatu masa yang dinanti, namun juga “ditakuti” oleh para calon pemegang gelar ini. Sama halnya yang aku alami dan teman2 lainnya. Lulus dari belenggu institusi pendidikan ini merupakan satu hal yang dimelatis. Di satu sisi kita senang, akhirnya bisa selesai juga perjuangan mengetik bermalam-malam, mencari data, berkutat dengan teori, dan juga pergulatan antara idealisme dan realita hidup. Termasuk ketika harus bertarung dengan subjektivitas dosen, yang memang benar mereka menang tua dan kuasa. Memang ada pembuktian kuasa yang ampuh bagi mereka, dan itu telah kurasakan. Ada grontokrasi dalam sistem ini. Entahlah apakah ini juga subjektivitasku juga? Karena memang ketika dihadapkan dengan objektivitas, terasa susah untuk mencapai kemurnian pengetahuan itu. Toh tak ada pengetahuan yang bebas kepentingan.

Di sisi yang lain, realitas hidup akan semakin lekat hinggap pada diri kita. Menjadi job seeker adalah status baru yang akan segera kusandang. Semoga Tuhanku yang tercinta akan segera beri jalan menuju tambatan yang tepat untuk berkarier dan mengabdikan ilmu dengan sebaik-baiknya. Kita tak mungkin akan selalu bergantung pada orangtua. Meminta uang, pulsa, dan makan pada orangtua setelah lulus, yang timbul adalah rasa tak enak. Walaupun orangtua tak mungkin akan membiarkan anaknya terlantar, namun dari diri sendiri rasa itu muncul. Masak setelah bertahun-tahun orangtua masih saja beri kita pundak mereka untuk bersandar. Kini, giliran aku yang akan memberikan pundakku kepada mereka, perempuan dan laki-laki terhebatku sampai saat ini.

I love you both…

November 18th, 2007 by udyanis

Pencuri Kebudayaan

Malaysia, truly Asia? Apakah semboyan pariwiata tersebut yang membuat Malaysia gencar menca(u)ri asset budaya negeri lain, yang notabennya adalah Negara tetangga dan serumpun. Siapa lagi kalo bukan Indonesia, negara yang dimaksud. Negri Jiran itu seperti tak mau kehilangan kesempatan untuk menunjukkan betapa kayanya negeri itu. Padahal kekayaan yang dimilikinya adalah “barang haram”, hasil curian dari sang tetangga. Rumput tetangga memang lebih hijau, dan itulah yang diirikan olehnya. Kita punya asset budaya yang begitu kaya yang terbentang dari sabang sampai merauke. Dari ribuan suku bangsa yang kita miliki menyimpan jutaan budaya. Wajib bagi kita untuk bangga dan juga menjaga supaya budaya ini tidak luntur dan tidak hilang oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Malaysia seharusnya malu. Dengan mengklaim “Rasa Sayange”, “Jali-jali” dan mungkin beberapa lagu daerah lainnya sebagai lagu miliknya, dan juga “Angklung” sebagai alat musik miliknya. Tidakkah mereka punya rasa malu untuk mengakui harta milik Negara lain sebagai miliknya? Bagaimana pertanggungjawabannya kepada masyarakat dunia? Malaysia apakah punya sejarah mengenai harta-harta yang diklaim sebagi miliknya tersebut? Ya, mereka punya sejarah MENCURI KEBUDAYAAN. Sungguh memalukan.

Tidakkah mereka berterima kasih kepada Indonesia? Dulu, tingkat pendidikan di Malaysia jauh di bawah Indonesia. Berbondong-bondong warga Malaysia sekolah di Indonesia, dengan dan juga tanpa beasiswa dari Pemerintah Malaysia. Kerjasama bidang pendidikan tersebut juga dibarengi dengan kedatangan guru dan dosen dari Indonesia untuk mengajar disana. Kini, tingkat pendidikan Malaysia melesat di atas Indonesia. Ini tak lepas dari peran Indonesia. Tidak ingatkah mereka?

November 18th, 2007 by udyanis

Antara utopia dan realita

Pernahkah kita bermimpi akan laut biru yang tenang? Keindahan terumbu karang yang bermesraan dengan kecantikan para ikan-ikan. Riak berkejaran sampai ke bibir pantai, dengan begitu damainya…

Pernahkah kita bermimpi pada indahnya langit. Dengan awan-awan bergelantungan dan berarak ringan tertiup angin. Tanpa perlu kita melihat kepulan-kepulan hitam disekitar mata.

Pernahkah kita berangan, tentang pepohon yang rindang di halaman rumah kita? Menaungi saat terik sang surya menyengat. Atau tentang rimbunnya hutan sang moyang yang menyimpang kekayaan pertiwi. Dan juga tentang sungai jernih yang mengalir lembut dengan gemericik air membentur bebatuan.

Apakah semua hanya impian semata? Atau kita masih bisa merasakan keindahan-keindahan sang alam yang kian luruh tersapu oleh keserakahan?

Jogjakarta, 19 November 2007. 9am

penggalan kisah (:)

November 8th, 2007 by udyanis

ada katakata yang pernah tak sedap.ada perbincangan yang sempat buat emosi melonjak.ada diskusi yg meng-underestimate-kan sesuatu.

adalah waktu yang pernah kujalani dengan begitu tak terkendali. aku begitu liar dengan pikiran2ku. aku terlalu naif dengan kehadiran perbedaan itu.masih begitu naif untuk jujur dengan nurani yang belum tersingkap.kebodohgan yang pernah kulakukan.salahkah ketika ada sesal?

dan sadar, bahwa tak guna lihat p[endaran silam.yang sempat buat tersilapkan olehnya.dan kini sesakpun hinggap,secara perlahan dan juga pasti.semua hadir hampir dalam waktu yang bersamaan dengan bayang lama..

teruntuk sahabat yang tak terlihat, maaf akan singgah dalam diamku. dan waktu tak kan berulang. pada kehadiran semu yang pernah ditawarkan..

dan ini sebuah kenaifan, bahwa kehadiran terasa ketika semuanya berlalu…

(watatata \how stupid/)